Webinar Kesehatan Umum Nasional Membangun Jembatan Literasi Kesehatan: Sinergi Tenaga Kesehatan dan Buku Populer untuk Pencegahan DM Tipe 2 pada Anak

Anak merupakan aset bangsa yang kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangannya harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan. UndangUndang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak atas derajat kesehatan yang optimal, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus. Namun, di tengah kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup, ancaman terhadap kesehatan anak semakin kompleks. Penyakit tidak menular (PTM) yang dahulu identik dengan kelompok usia dewasa dan lanjut usia, kini mulai bergeser ke populasi anak dan remaja. Salah satu penyakit yang mengalami pergeseran epidemiologi signifikan adalah Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2). Diabetes Melitus Tipe 2 pada anak merupakan kondisi gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas, yang terjadi pada usia di bawah 18 tahun. Berbeda dengan DM Tipe 1 yang bersifat autoimun, DM Tipe 2 pada anak erat kaitannya dengan kelebihan berat badan (obesitas), kurang aktivitas fisik, serta pola konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada anak usia 5–18 tahun mencapai 10–20% di perkotaan, dan sekitar 30–50% dari anak dengan obesitas berisiko mengalami prediabetes atau DM Tipe 2. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pun mengonfirmasi adanya tren peningkatan kasus DM pada kelompok usia remaja dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menjadi alarm yang tidak dapat diabaikan, mengingat jika tidak segera diantisipasi, beban penyakit kronis di masa mendatang akan sangat berat, baik dari aspek kesehatan individu, sosial, maupun ekonomi bangsa. Penyebab utama peningkatan kasus DM Tipe 2 pada anak bersifat multifaktorial, namun faktor gaya hidup memegang peranan paling dominan. Konsumsi gula tambahan yang berlebihan melalui minuman manis kemasan, makanan ringan (snack) tinggi kalori, serta makanan cepat saji (fast food) telah menjadi kebiasaan sehari-hari di kalangan anak-anak perkotaan. Di sisi lain, kemajuan teknologi informasi dan gawai telah menggeser pola aktivitas fisik anak dari bermain di luar ruangan (outdoor play) menjadi aktivitas statis di dalam ruangan (screen time) yang berkepanjangan. Minimnya pemahaman orang tua dan anak tentang bahaya jangka panjang dari kebiasaan tersebut memperburuk kondisi. Rendahnya literasi kesehatan masyarakat menjadi akar permasalahan yang menghambat upaya pencegahan primer. Literasi kesehatan (health literacy) didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi kesehatan dasar yang diperlukan untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat. Sayangnya, tingkat literasi kesehatan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh berbagai lembaga, mayoritas masyarakat masih kesulitan mengakses, memahami, dan mengaplikasikan informasi kesehatan yang bersifat ilmiah. Informasi yang beredar sering kali penuh dengan istilah medis teknis, disajikan dalam format yang kaku, dan tidak menarik bagi kelompok usia anak. Di sisi lain, informasi kesehatan yang tidak valid (hoaks) justru menyebar lebih cepat dan mudah dipercaya karena dikemas dalam bahasa yang sederhana dan narasi yang emosional. Kesenjangan antara pengetahuan ilmiah yang dimiliki tenaga kesehatan dengan pemahaman masyarakat ini menjadi tembok penghalang efektivitas program pencegahan yang selama ini digalakkan. Salah satu media yang terbukti efektif dalam menjembatani kesenjangan literasi kesehatan adalah buku populer, khususnya buku cerita bergambar dan fabel (cerita binatang) untuk anak. Fabel memiliki kedekatan psikologis dengan dunia anak karena menggunakan tokoh-tokoh hewan yang imajinatif, alur cerita yang sederhana, serta pesan moral yang mudah ditangkap. Melalui narasi yang menghibur, pesan kesehatan tentang bahaya gula berlebih, pentingnya sayur dan buah, serta manfaat aktivitas fisik dapat disisipkan tanpa terkesan menggurui. Proses membaca atau mendongeng bersama orang tua juga menciptakan momen interaksi positif yang memperkuat internalisasi pesan kesehatan dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, fabel edukasi bukan sekadar buku bacaan, melainkan instrumen intervensi perilaku jangka panjang yang menjangkau akar permasalahan sejak usia dini. Tenaga kesehatan memegang peran strategis sebagai garda terdepan sekaligus sumber informasi kesehatan yang kredibel. Keahlian klinis dan pemahaman mendalam tentang patofisiologi penyakit, faktor risiko, serta strategi pencegahan berbasis bukti (evidence-based medicine) menjadikan tenaga kesehatan sebagai penulis yang paling otoritatif untuk buku kesehatan populer. Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan, masih terdapat kesenjangan kompetensi. Tidak semua tenaga kesehatan terampil dalam menerjemahkan ilmu kedokteran yang kompleks menjadi narasi populer yang mudah dipahami dan menarik bagi anak-anak. Kemampuan menulis kreatif, khususnya merancang cerita fabel yang edukatif, masih menjadi keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan. Padahal, jika tenaga kesehatan mampu menulis buku populer yang berkualitas, dampaknya akan sangat luas: tidak hanya pasien yang datang ke fasilitas kesehatan yang teredukasi, tetapi seluruh lapisan masyarakat yang membaca karyanya. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, diperlukan sebuah upaya terpadu yang menghubungkan tiga komponen utama, yaitu: (1) penguasaan materi kesehatan tentang pencegahan DM Tipe 2 pada anak, (2) pemahaman tentang media literasi yang efektif (buku populer dan fabel), serta (3) keterampilan teknis menulis cerita edukasi. Oleh karena itu, webinar dengan tema “Membangun Jembatan Literasi Kesehatan: Sinergi Tenaga Kesehatan dan Buku Populer untuk Pencegahan DM Tipe 2 pada Anak” diselenggarakan sebagai wadah peningkatan kapasitas bagi para tenaga kesehatan. Kegiatan ini dirancang untuk mengisi celah antara pengetahuan klinis dan keterampilan menulis kreatif, sehingga peserta tidak hanya memahami urgensi pencegahan DM Tipe 2, tetapi juga mampu menghasilkan kerangka karya tulis populer (fabel) yang dapat dikembangkan menjadi buku. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi baru tenaga kesehatan yang tidak hanya cakap di meja praktik, tetapi juga produktif dalam berkarya dan berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa melalui jembatan literasi kesehatan.

WEBINAR KESEHATAN UMUM NASIONAL
Membangun Jembatan Literasi Kesehatan: Sinergi Tenaga Kesehatan dan Buku Populer untuk Pencegahan DM Tipe 2 pada Anak

# Terbitkan Buku Edukasi Diabetes Melitus Tipe 2

Biaya Pendaftaran: Rp. 0,- (Gratis)

Nilai SKP & Sasaran Peserta: https://bit.ly/WebDMTipe2

Link Pendaftaran: https://linktr.ee/ProgramYmindset atau melalui https://indonesiasehat.id/agenda/

Link Plataran Sehat : https://lms.kemkes.go.id/courses/e578ad8c-ffa4-449f-a859-9df5fac2ebb6

Pelaksanaan Webinar: Kamis, 23 Juli 2026
Webinar Pukul: 12.45 WIB – Selesai

Narahubung via WhatsApp:
https://wa.me/6285647676878 (Salsa Nurohman Putri)

Leave a Comment